harian-pagi.com.—–Bagi generasi yang tumbuh pada era 1970–1990-an, nama Jenderal TNI (Purn.) Andi Mohammad Jusuf Amir atau yang lebih dikenal sebagai Jenderal M. Jusuf bukanlah nama yang asing. Sosoknya lekat dengan perjalanan panjang sejarah militer Indonesia. Namun, di balik seragam, pangkat, dan jabatan besarnya, ada sisi kehidupan pribadi yang jarang tersorot: kisah keluarga dan sosok perempuan yang setia mendampinginya.
M. Jusuf lahir di Bone, Sulawesi Selatan, dari keluarga bangsawan Bugis. Garis keturunannya terhubung dengan lingkungan Kerajaan Bone dan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Meski demikian, ia dikenal memilih menanggalkan penggunaan gelar aristokrat “Andi” dalam kehidupan sehari-hari agar dapat bergaul lebih dekat dengan masyarakat tanpa sekat.
Dalam perjalanan hidupnya, beberapa sumber sejarah mencatat bahwa M. Jusuf pernah menikah dengan Siti Maisaroh Hilal, yang disebut sebagai cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Namun, nama yang paling lekat dalam perjalanan keluarga M. Jusuf hingga akhir hayatnya adalah Elly Saelan, yang akrab disapa Ibu Saeli.
Elly Saelan bukan sosok yang datang dari keluarga biasa. Ia merupakan perempuan berdarah Bugis-Manado dan adik kandung Emmy Saelan, pejuang perempuan dari Makassar yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Elly juga merupakan adik dari Maulwi Saelan, tokoh militer dan mantan kiper Timnas Indonesia yang pernah menjadi ajudan terakhir Presiden Soekarno.
Di samping Jenderal M. Jusuf yang dikenal tegas dan disiplin, Elly Saelan dikenal sebagai sosok yang lebih lembut, sabar, dan bijaksana. Kisah-kisah mengenai dirinya menggambarkan seorang istri yang mampu menjadi pendamping dalam kehidupan keluarga sekaligus dekat dengan orang-orang di lingkungan suaminya.
Pernikahan M. Jusuf dan Elly Saelan dikaruniai seorang putra tunggal, Jaury Jusuf Taufik Putra. Namun kebahagiaan keluarga itu kemudian diuji oleh kehilangan besar. Sang putra meninggal dunia ketika masih berusia sangat muda, sekitar masa 1960-an.
Bagi seorang ayah, kehilangan anak tentu meninggalkan ruang duka yang tidak mudah digantikan. Nama Jaury kemudian tetap hidup dalam ingatan keluarga dan masyarakat Makassar, salah satunya melalui nama Rumah Sakit Jaury Yusuf Akademis.
Tahun-tahun berlalu. M. Jusuf tetap menjalani pengabdian panjangnya kepada negara, sementara Elly Saelan berada di sisi sang jenderal sebagai pendamping kehidupan keluarga.
Ketika Jenderal M. Jusuf wafat pada 2004, ia dimakamkan di Pemakaman Islam Panaikang, Makassar. Bertahun-tahun kemudian, pada 11 Oktober 2014, Elly Saelan menyusul menghadap Sang Pencipta. Jenazahnya dimakamkan bersebelahan dengan pusara suaminya.
Ada sesuatu yang terasa begitu kuat dari kisah pasangan ini. Di hadapan publik, M. Jusuf adalah seorang jenderal dengan perjalanan pengabdian yang panjang. Namun di rumah, ia tetap seorang suami dan seorang ayah yang pernah merasakan kehilangan.
Sementara Elly Saelan, perempuan yang tumbuh dari keluarga pejuang, memilih berada di balik layar. Tidak banyak tampil, tetapi hadir mendampingi perjalanan panjang sang suami hingga akhir hayatnya.
Kini, ketika foto-foto lama seperti ini kembali muncul, kita seperti diajak membuka kembali album Indonesia masa lalu. Masa ketika foto keluarga dicetak dan disimpan dengan hati-hati, ketika sebuah kenangan tidak tersimpan di galeri ponsel, dan ketika perjalanan hidup seorang tokoh lebih sering dikenang melalui cerita dari orang-orang yang pernah berada di dekatnya.
Di balik nama besar Jenderal M. Jusuf, ternyata ada kisah tentang keluarga, kehilangan seorang anak, kesetiaan seorang istri, dan sebuah kehidupan yang jauh lebih manusiawi daripada sekadar catatan pangkat dan jabatan.
Sejarah tidak selalu berbicara tentang mereka yang berdiri paling depan. Kadang, sejarah juga tersimpan dalam sosok yang memilih berdiri di sampingnya.

Leave a Reply